Jakarta, CNN Indonesia

Perubahan iklim merupakan salah satu isu global yang paling mendesak saat ini. Berdasarkan data dari United Nations, lebih dari setengah populasi dunia saat ini tinggal di daerah perkotaan. Proyeksi menunjukkan bahwa angka ini akan terus meningkat dengan perkiraan mencapai sekitar 60 persen pada 2030.

Tren urbanisasi ini berdampak signifikan pada perubahan iklim karena aktivitas manusia yang menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca ke atmosfer, seperti tingginya konsumsi listrik di perkotaan. Dampak dari perubahan iklim ini pun semakin terasa di berbagai daerah di Indonesia.

Langkah konkret untuk melestarikan lingkungan tak lagi bisa ditunda dan harus dilakukan bersama-sama, baik oleh pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat. Oleh karena itu, beralih ke pencahayaan yang lebih hemat energi dapat menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengurangi emisi karbon.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baru-baru ini, Signify Indonesia (sebelumnya Philips Lighting Indonesia) meluncurkan inisiatif Green Switch. Inisiatif ini menawarkan cara cepat dan mudah dalam membantu mengurangi emisi karbon melalui teknologi pencahayaan LED dan LED terkoneksi yang energy-efficient.

Terdepan dengan brand unggulan, yakni Philips untuk pencahayaan profesional dan konsumen, dan Interact sebagai platform untuk sistem pencahayaan LED terkoneksi, Signify yakin dapat mendukung pemerintah mencapai Sustainable Development Goals (SDG) pada 2030 dan netralitas karbon pada 2060.

Country Leader Signify Indonesia, Dedy Bagus Purnomo, menyatakan bahwa Green Switch adalah langkah mudah dan cepat menuju masa depan yang lebih pintar dan berkelanjutan. Green Switch menawarkan solusi beralih dari lampu konvensional ke lampu LED dan LED terkoneksi yang mampu menghemat energi hingga 80 persen.

“Green Switch menjadi upaya nyata kami untuk membantu kota, bisnis, dan individu dalam menjalankan komitmen menjaga lingkungan tanpa menunda, sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai SDG,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (19/3).

Riset Signify di Indonesia menunjukkan bahwa dengan beralih ke pencahayaan LED terkoneksi diprediksi dapat mengurangi emisi karbon hingga 20,5 juta ton dan menghemat biaya energi hingga Rp37,1 triliun per tahun.

Pengurangan emisi karbon ini setara dengan jumlah karbon yang dapat diserap 933 juta pohon dalam setahun sesuai kemampuan rata-rata pohon dalam menyerap 22 kilogram karbon dioksida per tahun.




PhilipsIlustrasi yang mewakili kemungkinan hasil di masa depan berdasarkan model eksklusif yang telah
dikembangkan Signify untuk membantu pelanggan dan masyarakat memahami dampak
pencahayaan terhadap lingkungan. (Foto: Arsip Signify Indonesia)

Green Switch mencakup enam pilar program. Renovation Wave sebagai pilar utama untuk memperluas konversi lampu konvensional ke lampu LED dan LED terkoneksi.

Circular Economy menjadi pemikiran baru untuk use-reuse-regenerate di industri pencahayaan. Kemudian, Clean Energy dan Clean Mobility mempromosikan efisiensi energi saat memakai energi terbarukan untuk memenuhi tujuan keberlanjutan, seperti dekarbonisasi di perkotaan.

Sedangkan Biodiversity, mendorong pemakaian teknologi pencahayaan dalam proses produksi pangan yang secara global menyumbang hampir sepertiga dari emisi gas rumah kaca.

Terakhir, Digitalization mengakselerasi inovasi di ekosistem digital sekaligus mengurangi konsumsi energi dari pencahayaan hingga 80 persen untuk membantu mewujudkan kota pintar yang minim emisi karbon.

Sejauh ini, inisiatif Green Switch telah berjalan di sejumlah daerah, seperti integrasi Interact City ke platform Jakarta Smart City yang menjadi proyek penerangan jalan pintar terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Lalu, penggunaan cahaya dinamis dari Signify di Tebet Ecopark dan Marina Waterfront Labuan Bajo semakin menghidupkan kegiatan sosial dan perekonomian di wilayah setempat, meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warga dan pengunjung, serta membantu menurunkan risiko kriminalitas.

Signify juga memasang lampu tenaga surya di Jalan Aek Natolu, salah satu akses utama ke Pelabuhan Ajibata, Sumatera Utara, yang meningkatkan keamanan bagi para pengguna jalan dan mendukung pengembangan ekonomi di wilayah setempat.

Inisiatif ini selaras dengan Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 47 Tahun 2023 tentang Alat Penerangan Jalan yang mendorong pemanfaatan energi terbarukan seperti tenaga surya untuk lampu jalan.

Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan, Ahmad Yani, menyampaikan Kementerian Perhubungan menghargai peran Signify dalam mendorong pemanfaatan energi terbarukan pada lampu jalan (PJU).

“Kami akan terus mendukung penerapan prinsip konservasi energi pada proyek pengembangan infrastruktur jalan di seluruh Indonesia,” tegas dia.

Signify secara konsisten menjadi yang terdepan dalam inovasi pencahayaan. Philips MyCreation yang dicetak dengan menggunakan teknologi 3D, memakai polikarbonat yang 100 persen bisa didaur ulang untuk mengurangi jejak karbon hingga 47 persen.

Philips LED Ultra Efficient dirancang untuk 50 persen lebih hemat energi dengan masa pakai hingga 50 tahun, dan Philips LED Solar Solution memanfaatkan energi matahari untuk kebutuhan penerangan luar ruangan.

Berpengalaman lebih dari 130 tahun di bidang pencahayaan, Signify optimis Green Switch berjalan selaras dengan upaya pemerintah dalam konservasi energi yang tercermin dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi Energi.

“Green Switch mengajak pemerintah, pelaku industri, dan konsumen rumah tangga untuk beralih ke lampu LED yang lebih hemat energi. Dengan Flipping the Green Switch, bersama-sama kita semua bisa ikut menangani krisis iklim dan mewujudkan Indonesia yang lebih berkelanjutan,” pungkas Dedy.

Informasi lebih lanjut mengenai inisiatif Green Switch Signify bisa dilihat dengan mengunjungi laman resmi Signify.

(rir/rir)






Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *